RSS Feed

5 Jenis Usaha Dengan Hasil yang Menggiurkan

Posted on

1. Pisang Ijo

RISKA Jual Pisang Ijo Raup Omzet Ratusan Juta.
Kini selera makan masyarakat Indonesia makin beragam. Tidak melulu makanan londo cepat saji yang sekarang kian merebak, penikmat kuliner juga mulai melirik makanan tradisional Nusantara. Salah satunya adalah pisang ijo asal Makassar, Sulawesi Selatan.

Menu makanan dengan bahan dasar pisang berbalut tepung berwarna hijau ini sukses dipasarkan Riezka Rahmatiana. Perempuan muda berusia 24 tahun ini sanggup meraup omzet mencapai Rp 850 juta dari hasil jualan pisang ijo dengan merek dagang JustMine.

Padahal, saat memulai usaha pada 2007, dia hanya merogoh koceknya Rp 2 juta. Modal tersebut kemudian habis dibelanjakannya untuk membuat etalase kecil serta bahan-bahan pembuat pisang ijo.

“Waktu buka usaha ini modalnya kecil. Hanya Rp 2 juta,” ujarnya saat ditemui di sela-sela Expo Wirausaha Mandiri di Jakarta Convention Center,

Riezka berkisah, kesuksesan diraihnya dengan penuh kerja keras. Awalnya, dia pernah menjadi anggota multilevel marketing (MLM). Karena tidak membuahkan hasil, Riezka beralih menjajal bisnis voucer pulsa yang akhirnya kandas juga.

Tak patah arang, Riezka akhirnya banting setir dan mulai menggeluti usaha di bidang kuliner. Saat itu, dia merintis sebuah kafe di Bandung. Namun, lagi-lagi usahanya gagal.

Akhirnya, pada tahun 2007 Riezka mulai melirik pisang dan berpikir untuk mengemasnya menjadi panganan yang digemari orang. “Saat itu saya hanya berpikir, pisang itu kalau laku dijual enaknya dibikin apa. Akhirnya saya memutuskan untuk memasarkan pisang ijo,” katanya.

Yang unik, Riezka yang asal Mataram, Nusa Tenggara Barat, ini mengaku belum pernah sekali pun menyambangi Makassar. Kunci keberhasilan mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikai Universitas Padjadjaran ini sebenarnya terletak pada kreativitasnya mengembangkan makanan pisang ijo dalam berbagai aneka rasa. Dari pisang ijo tradisional dikembangkan dengan campuran vla yang ditambahkan dengan berbagai rasa, vanila, cokelat, keju, hingga durian.

Bandingkan dengan pisang ijo makassar yang hanya berbungkus terigu berwarna hijau pandan plus lamuran vla ditambah sirup sebagai pemanis. Ada juga yang dilumuri bubur sumsum dan es batu.

Harga pisang ijo JustMine dipasarkan Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per porsi. Semangkuk pisang ijo ini menjadi makanan yang digemari banyak orang. Buktinya, saat Expo Wirausaha Mandiri hari ini, ratusan pengunjung tidak henti-hentinya menyerbu stan pisang ijo ini. Bahkan, dalam hitungan jam, stok pisang ijo milik Riezka ludes.

“Ini makanya telepon lagi minta dikirim ke sini. Pengunjungnya sudah antre dari pagi,” ujarnya.

Untuk mengembangkan usahanya itu, Riezka membuka peluang untuk berinvestasi bagi siapa saja yang berminat dengan sistem waralaba pisang ijo. Hingga kini, ada 20 gerai pewaralaba pisang ijo yang tersebar di Bandung, Jakarta, dan Bekasi. Di samping itu, Riezka juga punya tiga outlet di Bandung.

Untuk menjamin keuntungan bersama dengan para mitra, proses seleksi mitra waralaba pisang ijo cukup cermat. Riezka menjelaskan, untuk menjadi mitra pisang ijo JustMine, cukup dengan investasi mulai dari Rp 6,5 juta.

Nantinya, para mitra akan mendapatkan satu booth, paket perlengkapan booth lengkap, paket promosi, jaminan kualitas produk, biaya delivery, trainning karyawan, dan hak pakai booth. siapa berminat?

2. KEBAB TURKI BABA RAFI:

Pernah makan kebab? Itu lho makanan khas timur tengah. Coba makan kebab Turki Baba Rafi. Kebab Turki Baba Rafi ada peluang bisnis waralabanya lho. Jika anda sedang mencari peluang bisnis waralaba di bidang kuliner mungkin Kebab Turki Baba Rafi jawabnya. Peluang bisnis waralaba Kebab Turki Baba Rafi bisa dimulai dengan modal awal Rp 55 juta. Akan mendapatkan 1 set lengkap yang terdiri dari counter dan peralatan lain (misal penggorengan dan alat pemanggang daging), karyawan

yang sudah dilatih, dibantu mencari lokasi usaha,

masa kerja selama 5 tahun, manual book (SOP), paket promosi (misal banner, neon box), dan lain-lain. Dalam jangka waktu 18 bulan sudah bisa balik modal. Omzet 1 outlet sekitar Rp 10 – Rp 15 juta per bulan, bahkan bisa mencapai Rp 60 juta, tergantung dari lokasi.

3. BAKSO KEPALA SAPI:

Bisnis kuliner tampaknya menjadi salah satu pilihan untuk menanamkan investasi. Pasalnya, selain terbilang tahan krisis, bisnis kuliner juga tidak mengenal musiman.

Anggara Kasih Nugraha Jati, pemilik bisnis bakso kepala sapi, memulai usahanya sejak 2006 lalu. Anggara berkisah, saat itu dirinya memang harus merogoh kocek cukup dalam sekitar Rp 50 juta untuk merintis usahanya ini. Namun, kerja kerasnya berbuah manis dan akhirnya dia bisa meraup omzet miliaran rupiah. Tahun 2009, usahanya yang memiliki brand “Bakso Kepala Sapi” ini beromzet Rp 2,1 miliar.

Sebelum mendirikan usaha ini, Anggara yang waktu itu masih mahasiswa memiliki bisnis yang seabrek, mulai dari menjual pernak-pernik hingga kartu kredit. Semua bisnisnya ini dilakukan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi investasi untuk bisnis baru.

Benar saja, uang hasil kerja keras dari bisnisnya itu dia investasikan untuk membuka kedai bakso di Kebon Pedes, Bogor. Modal awalnya habis untuk membeli bahan keperluan kedai. “Modalnya hanya saya gunakan untuk keperluan dapur. Kalau gedungnya kan sudah ada, milik keluarga,” kata Anggara, saat ditemui di sela-sela Expo Wirausaha Mandiri, Jakarta.

Akhirnya, bisnis bakso Anggara berkembang dengan pesat. Produknya kini telah dipasarkan di Sumatera dan Jawa.

Anggara juga memiliki beberapa merek dagang untuk usaha baksonya. Salah satunya adalah “Warung Bakso” yang dipasarkan dengan pola kemitraan.

4. NASI KEBULI:


Makanan khas Timur Tengah, nasi kebuli, kerap disajikan pada masa Maulid Nabi. Tak ayal, para pembuat nasi kebuli pun kewalahan memenuhi pesanan.

Daging kambing menjadi makanan pelengkap dalam pembuatan nasi kebuli. Karyawan Habib Alhabsy, bisa memasak hingga 60 ekor kambing untuk melengkapi menu nasi kebuli.

Seperti, pembuat nasi kebuli di kawasan Pedati, Jatinegara, yang telah dikenal hingga keluar kota. Harga nasi kebuli lengkap dengan gulai kambing, sekitar Rp. 1,7 juta per panci. Saat ramai pesanan seperti masa Maulid, Habib Anwar, bisa menghabiskan 30 karung beras ukuran 25 kilogram per hari.

Usaha nasi kebuli diturunkan dari usaha mertuanya, Habib Usman Alhabsy, yang merintis sejak 1980 lalu. Saat ini omzet penjualan nasi kebuli Habib Anwar, bisa mencapai Rp. 17 juta per hari. Padahal saat meneruskan usaha mertua pada 1999 lalu, omzet nasi kebuli Habib Anwar, hanya Rp. 2 juta.

Keahlian meracik bumbu nasi kebuli menjadi rahasia Habib Anwar, dalam mengolah nasi kebuli. Walhasil, tak sedikit penggemar yang fanatik selalu datang saat Maulid. Nasi kebuli beserta gulai kambing, disajikan dengan acar sebagai pelengkap.

Selain rasanya yang nikmat, cara makannya pun sangat khas. Disajikan dalam nampan dan dimakan bersama-sama, untuk menjalin persaudaraan dan kebersamaan.

5. BURGER KLENGER:
Bagaimana bisa sebuah burger mengubah nasib Velly Kristanti dan mampu hasilkan omset hingga milyaran rupiah per bulan?

Beginilah ceritanya.

BERMULA DARI PONDOK SAYUR ASEM

Rumah makan Pondok Sayur Asem adalah usaha yang pernah dirintis Velly Kristanti dan suaminya, Gatut Cahyadi, pada 2002 saat masih berstatus pegawai kantoran. Namun, usaha rumah makan itu tidak terlalu sukses, ia pun sempat frustrasi.

Tahun 2004, Velly dan suami terjun bebas melepaskan status pegawai dan mendirikan bisnis advertising syariah dan gagal lagi. Kemudian, bisnis IT juga pernah dilakoninya dan setali tiga uang, kesuksesan belum juga menghampiri.

Hingga sampai di titik nol dan satu-satunya yang mereka punya hanya Pondok Sayur Asem di daerah Pekayon, Bekasi, yang sempat tidak mereka pedulikan. Berawal dari situ, ide membuat makanan untuk anak muda yang cepat, halal, dan nikmat pun terbersit dan burger dipilih sebagai pilot project-nya.

Mengaku tak pernah belajar dari chef mana pun, Velly dan suami menganalisis dan meracik sendiri visi burger mereka, tentunya yang khas dan pas dengan lidah orang Indonesia.

Segala macam buku tentang burger dipelajari hingga akhirnya Velly membuat sendiri burger yang Indonesia banget. Terbuat dari roti yang lembut dan daging berurat serta saus spesial, burger bikinan Velly ternyata digemari dan semakin laris dipesan. Intinya, bikin orang jadi ‘klenger’!

KLENGER MENJELAJAH NEGERI

Nama ‘klenger’ diambil dari kosakata bahasa Jawa yang bisa berarti ‘setengah mati’, atau ‘klepek-klepek’, namun, Velly lebih suka mempersepsikan ‘klenger’ dengan analogi ‘tobat sambel’, sudah tahu sambel pedas tapi mau lagi mau lagi. Begitulah nama ‘klenger’ akhirnya dikenal masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi target market Klenger Burger.

Selain nama yang gampang diingat serta rasa dan servis yang memuaskan, Klenger Burger juga sukses dengan persebaran outletnya yang pada tahun 2010 ini berupaya mencapai target 100 outlet di seluruh negeri. Tak heran, “Jelajah Negeri” jadi tema Klenger Burger untuk tahun ini.

Sepertinya, target itu akan mudah tercapai mengingat hingga April 2010 ini, Klenger sudah mempunyai 63 outlet yang tersebar di Jabotabek, Bandung, Kuningan, Bali, dan Medan.Selain itu, ada 8 outlet yang mau opening, serta tambahan 6 outlet yang sedanG dalam preparation juga.

Outlet Foodteran Klenger Burger di Bintaro

Dalam hal paten, Klenger Burger tak mau kalah cepat. Sejak lahir, brand Klenger sudah dipatenkan atas nama Velly Kristanti.Meskipun demikian, tiruan Klenger Burger ternyata sudah merajalela dan Velly pun mewanti-wanti agar masyarakat dapat dengan bijak memilah mana Klenger asli dan mana yang palsu.

Velly pun masih mengurus kasus tersebut lewat jalur hukum. Selain hak paten, sertifikat halal dari MUI pun sudah dikantongi sejak Klenger masih dibuat secara rumahan di Bekasi hingga Klenger diproduksi massal dengan menggunakan mesin saat ini.

Logo Klenger Burger pun mempunyai filosofi yang tak kalah keren. Kalau Anda biasa melihat tulisan merk burger ada di tengah-tengah gambar burger, Klenger Burger menyajikan logo yang berbeda.

Tulisan “Klenger Burger” ada di atas burger, yang artinya kurang lebih, kita sebaiknya melihat segala sesuatu tak hanya dari pandangan mata tapi dari segala aspek, istilah kerennya: Beyond Burger.

Filosofi tersebut dianut Klenger untuk lebih dekat kepada masyarakat. Untuk memperkenalkan burger dengan cita rasa Indonesia, tak serta merta Klenger memaksakan rasa tertentu kepada masyarakat.

Sebaliknya, pendekatan rasa dan budaya digunakan Klenger untuk menarik market. Misalnya saja, di Medan, Klenger membuat menu spesial, yaitu burger omelet yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat yang sangat suka dengan telur.

Selain burger, Klenger juga memperkenalkan brand Pizza Kriuk, Clemots Coffee, dan Kweker Fried and Grilled Duck. Pizza bikinan Klenger juga masih bercita rasa Indonesia, misalnya saja pizza balado dan pizza sate.

Klenger memang addict untuk membuat brand-brand baru di bawah PT Kinarya Anak Negeri (KAN), perusahaan yang digawangi Velly dan suami. Brand-brand ini pun mempengaruhi strategi marketing Klenger ke masyarakat, dan tentunya investor yang berminat menjadi Franchisee.

Kini, sudah ada Burins (Burger Instan) yang menganut konsep take away, dapat ditemui di jaringan Alfa Express dan Circle K, 2K (Klenger Kriuk) yang menyediakan menu burger dan pizza dengan tempat buat kongkow yang asyik, Foodteran dengan konsep kolaborasi Klenger Burger, Pizza Kriuk, dan Clemots Coffee dalam satu area yang menyuguhkan pilihan variasi lengkap dengan teknologi support Free WIFI.

UJIAN IBARAT SEMESTER PENDEK

Ibarat semester pendek saat kuliah, Velly merasakan ujian yang menimpanya dalam waktu singkat telah membawa begitu banyak pelajaran berharga. Dari ditipu orang, modal habis-habisan, sampai frustrasi, membuat Velly dan suami belajar ikhlas dan mencoba bangkit dari keterpurukan.

Percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin serta kesuksesan itu bukan suatu proses yang instan adalah resep Velly dalam menggodok bisnisnya. Meski bisnisnya berkembang pesat, Velly merasa belum di puncak sukses. Ibu dari Raka dan Zahra lulusan D3 Sastra Belanda FIB UI ini masih merasa banyak PR yang harus dikerjakannya.

Mulai dari maintenance outlet, training SDM, hingga pengembangan usaha. Soal tawaran dari luar negeri, Velly mengaku, telah menampik tawaran tersebut karena ingin berjaya di negeri sendiri baru menginjakkan kaki di negeri orang.

Outlet Klenger Burger diklasifikasikan menjadi tiga kelas, yaitu Green Box, Yellow Box, dan Red Box. Untuk Outlet Green Box, omset yang diraup Klenger dapat mencapai lebih dari Rp2 juta/hari, Yellow Box Rp1—Rp1,5 juta/hari, Red Box kurang dari Rp1 juta/hari.

Sementara outlet yang baru dibuka digolongkan di Blue Box yang butuh penanganan khusus serta ada pula Black Box yang merupakan golongan outlet yang perlu direlokasi dan ditinjau kembali.

About dina haitami

tiada kata paling indah melainkan hanya bersyukur kepada Allah swt.

One response »

  1. Nice Info !
    tapi diantaranya merupakan bisnis Trends dengan yang live time bisnis ndak bisa berlangsung lama. hal ini terbukti francise diatas banyak ditinggalkan konsumennya. http://restoranseafood.wordpress.com/peluang-bisnis/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: